Tuesday, 28 August 2012

Short Story tentang Mahasiswa ITB yang Internship di Facebook part 2


Yeah, part 2. Bagi yang belum baca part 1 nya, silakan dibaca di sini.

------------------------------------- START OF PART 2 ---------------------------------------


Jam delapan pagi. Hari ini saya hanya tidur dua jam. Saya ingat jam delapan pada dua tahun lalu memiliki arti  khusus. Jam delapan pada dua tahun lalu adalah saat saya mendapatkan keputusan bahwa saya diterima untuk internship di Facebook.

Dua minggu berselang saya mendapatkan keputusan bahwa saya lolos interview pertama. Tidak ada kabar dari Kinh. Saat itu saya sedang mengikuti kompetisi pemrograman Gemastik bersama Irvan dan Karol di Surabaya. Kami hanya mendapatkan juara dua saat itu. Pada malam harinya saya memutuskan untuk meminjam internet dari Karol untuk mengecek email. Diluar dugaan, ternyata ada email dari Natalie (recruiter yang menjadwalkan interview saya) yang menyatakan bahwa saya sudah dijadwalkan untuk interview besok. Saya langsung panik karena saya masih di Surabaya dan saat itu internet tidak memadai. Saya langsung meng-email Natalie tentang situasi saya dan kami setuju untuk melakukan interview lusa tengah malam saat saya sudah pulang ke Bandung.

Singkat cerita saya ditelepon pada tengah malam. Lagi-lagi suara seorang pria terdengar sebagai lawan bicara saya. Basa-basi yang ia lakukan jauh lebih singat dan ia langsung memberikan pertanyaan. Ia memberikan tiga buah pertanyaan yang menurut saya cenderung lebih mudah dari interview sebelumnya. Dari hasil pembelajaran pada interview sebelumnya, setelah saya memberikan solusi, saya langsung memberikan test case bagaimana saya menguji solusi saya. Interview ini berakhir dengan sangat lancar.

Malam itu saya tidak bisa tidur cepat. Saya terlalu excited karena saya yakin interview kali ini sangat sukses. Setelah bermain DoTA satu ronde dan melanjutkan membuat proyek sejenak, saya tidur pukul 4 pagi.

Jam delapan pagi saya bangun. Saya mendapat email dari Kinh yang mengatakan bahwa ia ingin menelepon saya sekarang. Kebetulan email itu baru dikirim setengah jam yang lalu. Saya segera membalas bahwa saya sudah bangun dan siap ditelepon. Dan pada saat itu ia menyatakan bahwa saya lolos interview dan sekaligus terpilih sebagai intern musim panas di Facebook periode 2011.

Saya sangat senang. Saya melompat-lompat kegirangan seperti kangguru, atau kelinci, atau belalang, atau apapun yang melompat-lompat. Alwi yang sepertinya baru bangun bertanya: "Ada apa to, Go?" Dan saya ceritakan bahwa saya lolos interview di Facebook. Singkat setelahnya satu kontrakan (yang berisi 5 orang) menyelamati saya. Saat itu saya merasa bahwa saya telah menaklukkan dunia.

Berita menyebar sangat cepat. Saya yakin saya tidak pernah menceritakan tentang diterimanya saya di Facebook selain kepada keluarga saya dan beberapa teman baik saya (dan status Facebook yang sangat implisit). Namun bahkan rekan proyek saya dari SBM mengenali saya sebagai orang yang akan intern di Facebook.

Bukannya saya tidak suka menjadi orang populer, tapi saya merasa terganggu dengan hal ini. Selain orang-orang menjadi memiliki ekspektasi berlebihan terhadap saya dan memberikan stereotype yang sampai saat ini saya pegang: orang Facebook, Facebook-er, or such. Saya tidak menyukai hal ini. Apabila seorang teman mengingat saya, saya ingin ia mengingat saya sebagai teman berjuang bersama, teman bermain DoTA, teman dengan sense musik yang sama; bukan sebagai manusia unknown yang pernah bekerja di Facebook.

Dari sini saya menghabiskan banyak waktu menyiapkan visa. Masalah pertama adalah: paspor saya akan kadaluarsa pada waktu internship, padahal internship-nya masih lama. Hal ini membuat paspor saya tidak dapat diperbaharui (karena belum waktunya). Namun saya tidak punya waktu untuk menunggu hingga paspor-nya kadaluarsa karena mengurus visa membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya saya berhasil membuat paspor dengan memalsukan bahwa "paspor saya hilang." Dengan cara ini saya berhasil mendapat paspor baru.

Setelah mengurus paspor, saya mengurus tiket untuk pulang-pergi. Facebook saat itu bekerjasama dengan Carlson Wagonlit untuk masalah transportasi. Saya hanya perlu memberikan tanggal, tujuan dan informasi paspor dan saya mendapatkan tiket pulang-pergi gratis.

Setelah itu saya mengurus visa ke CDS (sekarang Cultural Vitae). Saya diharuskan memiliki transkrip dan surat pernyataan bahwa saya masih kuliah di ITB. Setelah itu saya mengisi essay mengenai mengapa saya ingin ke US, apa yang saya harapkan dari internship di US, dan essay-essay sejenis. Proses ini diakhiri dengan interview singkat dari CDS untuk memastikan saya bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar.

Proses terakhir adalah proses yang paling menyebalkan, mengurus visa ke kedubes. Banyak form yang harus diisi, dokumen yang harus dibawa dan ketentuan yang perlu dipatuhi. Singkat cerita setelah mendapatkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, membuat pas foto dan membayar fee, saya harus pergi ke kedubes pukul 6 pagi untuk interview. Disana saya masih harus menunggu hingga pukul 11 siang untuk mendapatkan interview. Mengantri untuk interview cukup menegangkan. Hal ini dikarenakan 3 orang didepan saya tidak diterima aplikasi visa-nya (ya, interview-nya terbuka). Saya tidak terlalu ingat alasannya. Saya yang mengantri diakhir barisan menjadi grogi. Namun ternyata aplikasi visa saya diterima dengan cepat.

Pada akhir April saya sudah siap. Paspor baru, tiket pesawat untuk pulang-pergi, apartemen yang sudah disewakan kan oleh Facebook selama 3 bulan, dan visa sudah ditangan. Tepat ketika saya merasa cukup siap dari segi non-teknis, HR Facebook mengontak saya dan memberi tahu tim dimana saya akan bekerja dan mentor yang akan "mengurus"saya selama 3 bulan. Everything finally fell in its places and I was very excited.

Dengan sigap saya langsung mengontak mentor saya, Chris Tice. Yang pertama saya lakukan tentu mengirim dia email. Kebetulan ketika saya mengirim email itu Chris sedang ulang tahun. Jadi selain perkenalan saya sekaligus menyelamati dia. Setelah itu saya langsung add dia sebagai friend, dan mengirim beberapa pesan-pesan perkenalan.

Diluar dugaan, yang ia balas pertama kali adalah email. Ia berterima kasih dan menyebutkan bahwa saya akan bekerja di proyek yang namanya tidak bisa saya sebutkan. Ia juga memberitahu saya tools dan framework yang harus saya pelajari (yang tidak bisa saya sebutkan juga). Saya lalu menghabiskan beberapa hari untuk mempelajari framework yang diberikan. Sayangnya karena framework tersebut masih baru dan dokumentasinya minim, saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan esensi dari framework tersebut.

Dengan sebuah koper besar penuh baju, laptop mini yang tidak bisa di-charge, kemampuan berbicara Bahasa Inggris yang pas-pasan dan pengetahuan tentang medan pertempuran di Facebook yang minim, saya berangkat ke US pada tanggal 17 Juni 2011.

--------------------------------------- END OF PART 2 ---------------------------------------

Wah yang ini mulai gak niat nulis-nya. Nulis-nya di-postpone dulu deh biar quality nya sama dengan sebelumnya >.<

1 comment: